Mar 26

Manajemen Informasi dengan Twitter

Pada post kali ini, saya akan berbicara sedikit mengenai penggunaan Twitter. Utamanya bagi yang memanfaatkan Twitter sebagai media komunikasi publik dari suatu institusi/perusahaan ke orang luar. Saat ini banyak perusahaan-perusahaan maupun institusi di pendidikan (SD – Perguruan Tinggi) yang menggunakan social media untuk menjalin interaksi dengan pihak luar. Dan kadang ketika kita melihat akun twitter tersebut, yang terlihat hanya informasi yang baik. Terlihat aneh memang, dan seharusnya mengapa seperti itu, yang lebih mengerti mestinya orang di bidang komunikasi.

Namun, apabila kita pikirkan dengan logika sederhana, mana ada institusi yang mau terlihat buruk di hadapan umum? Apalagi jika kelemahan-kelemahan institusi tersebut bisa diketahui oleh para pesaing atau orang yang ingin bertindak jahat. Misalkan saja, di suatu hari ada sebuah perusahaan X yang kantornya disantroni maling. Kejadian tersebut tidak akan di-tweet oleh akun twitter perusahaan tersebut. Begitu juga jika telah terjadi pencurian data penting di perusahaan tersebut, mana mungkin akun twitter mereka memposting tweet mengenai hal tersebut?

Baiklah, secara logika sederhana saja, dua contoh hal di atas tidak akan terjadi. Tetapi bagaimana jika suatu saat ada orang lain yang mengeluhkan sesuatu mengenai perusahaan anda, dan menyampaikannya melalui akun twitter perusahaan anda? Jika sebagai customer service, maka keluhan tersebut akan diteruskan ke pihak yang berwenang/mampu menjawabnya. Kemudian jawaban itu biasanya akan diberikan ke pihak yang bertanya secara privat. Atau bisa juga menyampaikannya secara publik seperti ketika perusahaan menjawab keluhan pelanggan yang disampaikan melalui koran.

Akan tetapi, jika keluhan yang diterima oleh akun twitter tersebut dipublikasikan ulang (ReTweet), terlepas dari apakah sudah disampaikan ke pihak yang berwenang atau tidak, maka jelas bukan impresi baik yang diterima oleh perusahaan anda. Orang dari luar akan melihat bahwa perusahaan anda tidak becus mengurus permasalahan yang terjadi. Terlebih lagi jika informasi yang di-ReTweet tadi adalah informasi yang seharusnya tidak bocor ke publik. Misalkan saja, ada sebuah pabrik susu yang memiliki akun twitter @pabriksusu_surabaya. Kemudian ternyata ada salah satu pelanggan yang komplain melalui twitter dan mengatakan bahwa susu yang dia beli ada lalat di dalamnya. Jika hal itu di-ReTweet oleh si @pabriksusu_surabaya, maka orang lain bisa beranggapan bahwa susu yang dia jual tidak berkualitas.

Contoh kejadian yang lain, di pabrik susu tersebut ada seorang karyawan yang berinisiatif untuk menjadi “customer service” dan public relation, karena secara resmi, pabrik susu tadi belum memiliki akun twitter resmi. Sehingga ada akun twitter tidak resmi dari pabrik susu tadi yang bertugas memberikan informasi-informasi mengenai produk yang dijual. Lama-lama, orang-orang akan beranggapan bahwa akun tersebut mewakili pabrik susu tersebut, karena kebenaran informasi yang disampaikan. Suatu saat, ada pelanggan yang komplain bahwa ia telah melihat pengolahan susu dari pabrik itu tidak higienis dan menyampaikannya melalui twitter. Kemudian si admin dari akun ini selain menyampaikan keluhan ke atasannya, dia juga me-ReTweet komplain tadi. Sekarang apa yang anda pikirkan jika anda adalah orang luar yang menggemari merk susu tersebut?

Pemilik akun twitter tidak sama dengan penyedia forum web seperti kaskus. Ketika penyedia forum tidak bertanggung jawab atas apa yang dituliskan oleh penggunanya, itu hal yang wajar. Karena mereka memang hanya menyediakan tempat bagi pengguna untuk menulis sesuatu. Tetapi pemilik akun twitter sudah seharusnya BERTANGGUNG JAWAB terhadap APAPUN yang dia tulis (tweet) atau publikasikan ulang (ReTweet). Karena hal itu dilakukan secara sadar dan atas kehendak pemilik akun. Sehingga jika ada pemanfaatan informasi yang tidak seharusnya, pemilik akun juga bertanggung jawab.

Terakhir, jangan lupa juga, tidak semua follower atau orang yang membaca tweet anda itu adalah orang baik. Ada beberapa orang yang memanfaatkan informasi dari social media semacam twitter untuk berbuat jahat. Sesuai kata bang napi, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelaku, tetapi kejahatan bisa terjadi karena ada kesempatan. Waspadalah !;-)

Be Sociable, Share!

0
comments

Reply

[+] kaskus emoticons nartzco